Awal
berdirinya Cirebon dinamai dengan Lemah Luwuk, sebagai pusat penyebaran Agama
Islam dan menjadikan Cirebon sebagai kota budaya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa
dibangun pada tahun 1489 masehi.
Masjid
agung berada di sebelah barat utara alun-alun Cirebon. Alun-alun memiliki ke
khasan tersendiri berbentuk persegi panjang yang pada umumnya alun-alun
berbentung bujur sangkar.
Bentuk
pondasi masjid untung menyangga bangunan, kolom atau tiang terbuat dari kayu
sedangkan kolom tiang terbuat dari umpak. Pada bangunan arsitektur Jawa
biasanya tiang selalu berumpak, sedangkan pada arsitektur Sunda biasanya
bangunan panggung yang berada di atas tanah.
Kolom
dan dinding sebagai elemen badan bangunan dan bahan yang di gunakan adalah batu
bata dengan ketebalan yang katanya pengaruh arsitektur Jawa. Sedangkan di
arsitektur Sunda lebih ke pada memakai dengan kayu dan bahan alami lainnya.
Bentuk
atap masjid yang berbentuk limasan dan bertumpang tiga, diduga bahwa mempunyai
perpaduan dua arsitektur tradisional. Dengan atap yang berbentuk limasan yang
berarti arsitektur Sunda dan bertumpang tiga pengaruh arsitektur Jawa.
Ruang
inti dan utama masjid berbentuk persegi panjang, yang biasanya pada
masjid-masjid wali atau masjid-mesjid besar lainnya berbentuk bujur sangkat.
Kemungkinan bentuk tersebut pengaruh dari arsitektur Sunda, karna arsitektur
Sunda biasanya berbentuk persegi panjang, sedangkan arsitektur jawa berbentuk
bujur sangkar.
Pembagian
ruang Masjid agung Cirebon ini sama dengan Masjid Agung Banten dan Masjid Agung
Demak, meliputi ruang utama, ruang inti masjid, mihrab, ruang serambi tengah
dan depan, ruang pawestren, tempar wudlu, ruang pemulihan jenazah, makan, dan
sebagainya.
Pada
Masjid Agung Sang Cipta Rasa bentuk ragam hias bangunan yang terdapat yang
terdapat pada elemen mihrab, ukiran pada tiang, balok di atas pintu, struktur
atap, tiang dan relief dinding masih banyak
dipengaruhi oleh pengaruh sebelum islam. Sebab ini melihatkan terjadi akulturasi
budaya. Pada ragam hias kolom, dinding dan atap, mihrab dan mimbar, masih
mempengaruhi unsur sebelum islam, yaitu Hindu tetapi selanjutnya dipadukan
dengan nilai Islam dan Jawa, sedangkan di tanah Sunda tidak mengenal tentang
ragam hias khususnya pada bangunan masjid. Ragam hiasa pada pagar dan gapura,
dilihat dari bentuk baik dari pagar atau pada gapura, dipengaruhi arsitektur
Jawa.
Jadi, adanya pepaduan arsitektur Jawa dan arsitektur Sunda
pada banungan Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada denah dan atap yaitu di
pengaruhi oleh arsitektur jawa, sedangkan yang di pengaruhi oleh arsitektur
Jawa yaitu pada bagian bangunan dan ragam hias, elemen kaki bangunan, dan
pembagian ruang.

0 Komentar