Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di kawasan Keraton Kesepuhan Cirebon sangat dikenal dengan tradisi Adzan Pitu. Adzan ini dikumadangkan pada saat sholat Jumat pada adzan pertama.
Adzan
tersebut sudah sudah dilakukan sejak Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berdiri.
Asal muasal Adzan Pitu ini sangat popular dan fenomenal.
Banyak
versi asal muasal masjid ini tetapi heroiknya hamper sama yaitu da peristiwa
besar yang meresahkan masyarakat sekitar. Adzan Pitu merupakan tidat dari Sunan
Gunung Jati sebagai strategi untuk menghilangkan para pendekar jahat yang mempunyai
ilmu hitam pada abad ke 15, pendekar tersebut bernama Menjang Wulung.
Saat
itu Menjangan Wulung suka berdiam diri di kubah masjid. Perilakunya selalu
meresahkan masyarakat terutama setiap ada muadzin melantunkan azan hingga saat
hendak ibadah salat. Dan setiap muazin yang melantunkan azan selalu meninggal
terkena serangan Menjangan Wulung.
Melihat
kejadian yang terus terulang, Sunan Gunung Jati meminta tujuh orang melantunkan adzan secara
berbarengan. Namun, setelah azan selesai, seketika terdengar suara ledakan dari
bagian atas bangunan masjid.
pendekar
jahat tersebut yang berada di kubah masjid terluka, terpental hingga darahnya
berceceran. Konon, saat terpental, kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
ikut terbawa hingga menumpuk diatas kubah Masjid Agung Serang Banten.
Menjangan Wulung dipastikan
musnah setelah terpental dari masjid bersamaan dengan meledaknya kubah (momolo)
masjid. Namun sayangnya satu dari tujuh amir masjid tersebut meninggal setelah
Menjangan Wulung musnah.
menurut cerita para orang tua
terdahulu, darah Menjangan Wulung yang berceceran itu tumbuh menjadi tanaman
labu hitam. Masyarakat Cirebon biasa menyebutnya wolu ireng.
Versi lain asal muasal azan
tujuh yakni saat itu Masjid Agung Sang Cipta Rasa masih beratapkan rumbia
terbakar. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun hasilnya gagal.
Sampai pada akhirnya Nyi Mas
Pakungwati, istri Sunan Gunung Jati Cirebon menyarankan agar dikumandangkan
azan. Api tak kunjung padam, azan kembali dikumandangkan oleh dua orang hingga
berjumlah enam orang, namun api belum juga padam.
Konon api baru padam setelah azan
dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin. Sejak saat itulah tradisi azan pitu
dilestarikan hingga saat ini.

0 Komentar