Tradisi Adzan Pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa




                                                             (image : republika.co.id)


Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon mempunyai tradisi yang khas dan berbeda dengan yang lainnya. Biasanya adzan menandakan bahwa sholat telah tiba dilantunkan oleh satu orang muadzin. Namun di Masjid Agung Sang Cipta Rasa keraton Kesepuhan Cirebon, adzan dilantunkan oleh tujuh orang muadzin sekaligus. Tradisi ini di namakan Adzan Pitu, pitu yang berarti tujuh.

Tidak banyak sumber yang menjelaskan tentang tradisi adzan pitu yang unik ini, namun dari beberapa sumber yang ada secara keseluruhan munculnya tradisi adzan pitu tidak terlepas dari peran Sunan Gunung Jati yang ketika itu menjadi pemuka agama sekaligus raja di Kerajaan Cirebon yang pada waktu itu bernama Keraton Pakungwati, dan kisahnya tidak akan terlepas dari asal mula Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak tidak jauh dari komplek Keraton Kesepuhan Cirebon. Masjid ini di bangun pada tahun 1480 M sampai sekrangpun masjid ini masih di gunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai tempat beribadah maupun sebagai tempat berlangsungnya acra ritual keagamaan yang lainnya.

Selain keunikan arsitektur bangunannya, ada pula keunikan yang liannya yaitu tradisi Adzan Pitu. Tradisi yang sangat unik ini mungkin hanya ada di Indonesia, bahkan mungkin hanya satu-satunya di dunia.

Adzan pitu ini merupakan tradisi yang dilalukan sejak 500 tahun silam. Dulu adzan pitu ini dikumandangkan setiap waktu sholat tiba, tetapi sekarang adzan pitu dikumandangkan hanya ketika sholat Jumat, pada adzan pertama.

Menurut informasi dari buku Babad Cirebon, adzan tujuh atau dikenal dengan sebutan adzan pitu berawal sejak masa awal perkembangan Islam di Cirebon. Konon di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dahulu ada musibah yang menyebabkan tiga orang muadzin meninggal secara berturut-turut secara misterius. Ketika masjid ini di sirikan sebagian besar masyarakat Cirebon sebagian besar belum memeluk agama Islam. Masyarakat menolak pembangunan masjid ini. Penolakan tersebut terjadi oleh sihir yang menyebabkan tiga muadzin meninggal secara misterius.

Konon saat itu, sihir itu melalui perwujudan makhluk siluman bernama Menjangan Wulung yang bertengger di kubah masjid, dan menyerang setiap orang yang melantunkan adzan maupun hendak sholat. Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Menjangan Wulung tidak senang dengan penyebaran agama Islam, dan ingin menghambatnya. Kondisi ini membuat resah umat Islam.

Ada satu sumber yang mengatakan bahwa awalnya Sunan Gunung Jati memohon kepada Allah SWT untuk meminta jalan keluar dari kesulitan tersebut. Hingga akhirnya diperintahkan lah salah seorang untuk mengumandangkan adzan di masjid itu, tetapi tidak berhasil. Usaha tersebut terus dilakukan dengan ditambahnya orang yang adzan. Dua orang, tiga orang, empat orang, namun tetap saja tidak berhasil. Akhirnya ketika adzan yang dikumandangkan itu dilakukan oleh 7 orang, maka Menjangan Wulung berhasil disingkirkan.

Bersamaan dengan itu seketika binasalah kekuatan gaib yang disebarkan oleh makhluk halus bernama Menjangan Wulung. Ternyata selama ini Menjangan Wulung bertengger di atas kubah tersebut. Setelah Menjangan Wulung dapat dikalahkan, pemiliknya masuk Islam.
Menurut cerita, karena ledakan dahsyat tersebut, kubah masjid itu terlempar ke Banten. Itu sebabnya mengapa hingga saat ini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak mempunyai kubah sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah. 

Keunikan lainnya adalah ternyata yang berhadapan langsung dengan Mic (pengeras suara) itu hanya satu orang saja. Keenam muadzin lainnya mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara. Mungkin hal itu hanya masalah teknis saja, mengingat dulu waktu munculnya tradisi adzan ini, belum ada alat pengeras suara. Jadi waktu itu semua muadzin mengumandangkan adzan secara langsung dengan suara alami mereka. Seiring majunya teknologi, maka masjid ini pun ikut menyesuaikan dengan menggunakan alat pengeras suara agar bisa lebih terdengar jelas oleh masyarakat, sama seperti masjid-masjid lainnya.

Mengapa tradisi ini masih terus dijalankan dan dipertahankan? suatu waktu pernah tradisi ini coba dihilangkan dengan kembali menggunakan satu orang untuk adzan. Akan tetapi, tidak berapa lama, muadzin tersebut akhirnya meninggal dunia. Kemudian ketika dicoba lagi dengan satu muadzin, hal itu berulang kembali. Oleh karena itu, masyarakat kembali menggunakan tujuh orang untuk adzan di masjid itu.

0 Komentar