Versi-versi Sejarah Mengenai Adzan Pitu



Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini masjid yang kaya akan sejarah, kebudayaan, dan tradisi yang terdapat di masjid ini salah satunya adalah adzan pitu yang dilakukan setiap sholat jumat oleh tujuh orang muadzin. Dulu adzan pitu ini dilakukan atau dikumandangkan pada saat masuk waktu sholat, tapi sekarang berbeda adzan pitu hanya akan dilakukan pada sholat jumat saja. Dilakukannya adzan pitu ini katanya untuk menangkal  serangan sihir yang tidak menginginkan adanya penyebaran agama islam di Cirebon ini.


Banyak sekali pendat yang simpang siur mengenai sejarah adzan pitu ini diataranya adalah.

Versi pertama. Tradisi adzan pitu bermula saat masjid Sang Cipta Rasa masih beratapkan rumbia dan itu mengakibatkan kebakaran hebat. Melihat keadaan itu berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun hasilnya gagal, Sampai pada akhirnya istri Sunan Gunung Jati yang bernama Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan adzan, Namun api belum juga padam, adzan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah adzan dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin. Sejak saat itulah tradisi adzan pitu dilestarikan hingga saat ini.
Versi Kedua. Menerangkan bahwa adzan pitu merupakan titah dari Sunan Gunung Jati sebagai strartegi untuk mengalahkan siluman jahat yang berilmu hitam tinggi bernama Menjangan Wulung, Saat itu Menjangan Wulung bertengger di kubah masjid dan menyerang setiap orang yang hendak ke masjid baik untuk adzan maupun hendak sholat. Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung, selanjutnya Sunan Gunung Jati meminta tujuh orang melantunkan adzan sekaligus berbarengan, begitu adzan selesai dikumandangkan, seketika terdengar ledakan dari bagian atas bengunan masjid. Menjangan Wulung yang berada di kubah Masjid Sang Cipta Rasa terbang lalu terpental .
Bersamaan dengan perginya Menjangan Wulung konon kubah Masjid Sang Cipta Rasa pun ikut terbawa dan kemudian kubah itu menumpuk di atas kubah Masjid Agung Serang Banten. Konon karena itulah Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak mempunyai kubah, sedangkan Masjid Agung Serang Banten mempunyai dua buah kubah yang bertumpukan.
Sedangkan mengenai literatur sejarah “adzan  pitu” memang sulit ditemukan karena kebanyakan buku-buku yang beredar cenderung membahas tentang sejarah Kesultanan Cirebon. Kita hanya akan mendapati cerita yang turun temurun dari para sesepuh Cirebon yang beredar di masyarakat Cirebon. Berbagai versi sejarah “adzan pitu” ditemukan  dalam kisah yang dituturtinularkan masyarakat.
Terlepas dari perbedaan-perbedaan itu terdapat nilai agama, sejarah dan budaya Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sangat penting bagi masyarakat Cirebon, Misalnya tradisi Adzan pitu yang dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin.


0 Komentar