Siapa yang tidak tahu Masjid Agung Sang cipta rasa Cirebon?
Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini adalah masjid tertua yang terdapat di kota Cirebon,
Karen masjid ini dibangun sekitar tahun 1480 Masehi atau semasa Wali Songo
menyebarkan agama islam di tanah jawa. Dalam pembangunan masjid ini Sunan Gunung
Jati menugaskan Sunan Kali Jaga dan
Raden Sepat untuk menjadi arsitektur dalam pendirian masjid ini. Pembangunan masjid
ini dilakukan oleh lima ratus orang pekerja dari kerajaan Majapahit , Demak dan
Cirebon. Konon katanya pembangunan masjid ini hanya di lakukan satu malam,
kemudian pada pagi harinya masjid ini sudah bisa di gunakan untuk sholat subuh.
Uniknya masjid ini dibangun tanpa menara,
beratap limas dan tanpa hiasan di ujungnya, entah itu bulan sabit atau hiasan
atap khas Jawa yang disebut memolo. Konon, hiasan di atap Masjid Agung
Kasepuhan berpindah ke atap Masjid Agung Banten.
Dibalik semua kisah sejarah yang
terdapat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini terdapat pesan Sunan Gunung Jati
selaku pemilik masjid ini. Selama hidupnya beliau pernah berpesan,
diantara yang paling terkenal pesan
beliau adalah : "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip
tajug dan fakir miskin)". Selain itu ada banyak pesan pesan beliau yang
lain.
Pesan
beliau yang berbunyi “Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug
dan fakir miskin)” pesan ini juga di pampang di depan makam beliau. Hanya saja
entah kesalahan penafsiran orang-orang terhadap pesan beliau, hingga kini apabila
kita berkunjung ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa bertepatan dengan sholat jumat
atau peringatan hari-hari besar islam di halaman masjid berjejer para peminta
peminta, bahakan tidak hanya di hari-hari tertentu saja sekarang setiap hari
para peminta akan berjejer di area pintu masuk ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Tidak
hanya di masjid kondisi lebih ramai akan kita jumpai di sekitar makam beliau, yaitu
komplek pemakaman kesultanan di Gunung Sembung yang berseberangan
dengan komplek pemakaman Gunung Jati tempat bermakamnya Sheh Nur Jati. Di
komplek pemakaman tersebut, para pengemis dan peminta-minta tidak hanya sekedar
berjejer saja tapi sudah tahap mengerubuti para peziarah makam.
Memang butuh kearifan dan pemahaman yang baik dari semua
pihak untuk menjalankan amanah dari Sunan Gunung Jati tersebut, beliau
menitipkan tajug dan fakir miskin tentunya untuk dimakmurkan. Semakin banyaknya
atau semakin maraknya praktek para peminta minta di sekitar makam beliau
sepertinya bukanlah hal yang baik dari pelaksanaan pesan tersebut.

0 Komentar