Arsitektur Khas Kayu Jati Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon





Siapa yang tidak tahu tentang masjid agung yang terletak di daerah Cirebon ini. Masjid tertua yang ada di daerah Cirebon ini dibangun pada tahun 1480 M. Masjid ini peninggalan dari sunan gunung jati ketika beliau sedang menyiarkan agama islam di daerah Jawa khususnya di Cirebon. Masjid ini masih berdiri kokoh hingga saat ini walaupun sudah lama dibangun.

Bangunan pada masjid  Agung Sang Cipta Rasa ini berbeda dengan masjid lain, bangunan pada masjid ini sangat khas dengan bangunan-bangunan keraton yang ada di daerah jawa. Jika bangunan masjid lain umumnya menggunakan bahan dasar semen dan pasir untuk pondasinya hal berbeda akan kalian temukan di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu jati. Pilar- pilar yang terdapat di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini terbuat dari kayu jati yang saat kita masuk ke beranda masjid kita akan disuguhkan dengan pilari-pilar tinggi yang terbuat dari kayu jati yang masih utuh hingga kini.  Arsitektur pada bangunan masjid ini sangat khas dengan kayu. Di beranda masjid terdapat sebuah ukiran kayu besar dan lebar dimana diukiran tersebut terdapat tulisan kaligrafi yang sangat rapih pahatannnya. Shaf pembatas antara laki-laki dan perempuan pun menggunakan suatu ukiran yang masih terbuat dari kayu. Dari beranda kita dapat melihat pintu yang lumayan tinggi, pintu menghubungkan beranda dan bangunan inti masjid. Saat masuk ke dalam masjid inti kita akan lebih di suguhkan dengan arsitektur-arsitektur bangunan ini yang terbuat dari kayu.

Kayu-kayu jati terpasang rapih dalam bangunan ini, tersusun dari bawah hingga ke atas. Masjid ini memang sangat khas dengan bangunannya yang terbuat dari kayu jati adapun dipojok sebelah kanan terdapat  tempat yang di lindungi oleh pagar yang terbuat dari kayu atau disebut maksurah/kerapyak tempat  sholat ini hanya di isi khusus oleh sultan dan keluarganya ketika menunaikan sholat. Di dekat tempat sholat untuk sultan atau maksurah ini terdapat mimbar yang masih terbuat dari kayu mimbar ini adalah mimbar lama yang di simpan di sana. Sama halnya pada saat di beranda di bangunan intipun banyak sekali pilar-pilar yang terbuat dari kayu menjulang tinggi tidak hanya itu terdapat pula banyak tiang-tiang penyangga di atasnya yang tersusun sangat rapih.

Di sebelah mimbar terdapat tempat untuk imam, dan lebih ke belakang tempat sholat imam ini terdapat tiang panjang yang dilengkapi dengan tujuh microfon bukan tanpa alasan microfon ini di pasang, hal  ini di karenakan pada saat sholat jumat selalu diadakan adzan pitu yang dilakukan oleh tujuh orang muazin.  Bangunan inti masjid ini tidak setiap hari dipakai, hanya pada saat-saat tertentu saja.  
Tembok bangunan inti masjid agung sang cipta rasa ini dibangun dari susunan bata merah yang sama sekali tidak diplester, namun memiliki ketebalan hampir 70cm.

Dan di masjid ini juga terdapat  sebuah bedug besar, bedug ini tidak pernah di pakai setiap harinya hanya pada saat tertentu saja. Seperti saat bulan puasa atau ramadhan itupun hanya di jam-jam tertentu di mulai dari pukul 23.00-00.00 dibunyikan pada saat jam-jam tengah malam itu, karena untuk membangunkan sahur para masyarakat yang sedang melaksanakan ibadah puasa ramadhan.

Dan uniknya lagi pada masjid agung sang cipta rasa ini tidak terdapat momolo atau kubah masjid. Hal ini berhubungan dengan kisah atau sejarah di bangunnya masjid agung sang cipta rasa ini.




0 Komentar